Pages

Monday, November 17, 2014

Kristus Raja Semesta Alam - Cantate Domino XVII


Konser Cantate Domino XVII, Kristus Raja Semesta Alam, Sabtu 22 November 2014


















Paduan Suara St. Caecilia Katedral Jakarta kembali menggelar acara Cantate Domino

Acara ini diadakan pada Pesta Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, Sabtu, 22 November 2014, di Gereja St. Perawan Maria Diangkat ke Surga, Katedral Jakarta. 

Konser kali ini adalah penyelenggaraan ke-17 sejak pertama kali diadakan oleh PS St. Caecilia dengan maksud memberikan kesempatan bagi paduan suara untuk dapat tampil, mengembangkan kemampuan dan pengalaman baru bagi kelompok paduan suara melalui acara konser.

Peserta acara Cantate Domino kali ini adalah:
  • PS Persevera SMA Kolese Kanisius
  • Regina Caeli Children & Youth Choir
  • PS Cantamus Dei
  • Holy Angels Children Choir
  • Kelompok Musik Kreatif STT Jakarta
Acara Cantate Domino kali ini juga disertai dengan acara pelatihan paduan suara.

Pelatihan paduan suara "Bernyanyi Lebih Baik dalam Paduan Suara"

Pelatihan paduan suara ini merupakan inisiatif PS St. Caecilia Katedral Jakarta untuk ikut serta mengembangkan pengetahuan dan kemampuan anggota paduan suara di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Fasilitator pelatihan kali ini sudah sangat dikenal di dunia musik, Budi Utomo Prabowo, atau dikenal dengan Tommy. Pengalaman serta kemampuannya tentu saja akan memberikan bekal yang baik bagi peserta pelatihan ini. 

Bagi Anda yang tertarik untuk mengikuti pelatihan paduan suara dan hadir pada acara konser Cantate Domino, silahkan menghubungi Eka 081804188266 atau Susi 081514211086.

Cantate Domino canticum novum! Sing to the Lord a new song!
Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! 
(Mazmur 96:1)

Monday, June 07, 2010

Thy Spirit in My Voice - Cantate Domino XIV

cantate domino thy spirit in my voice
Thy Spirit in My Voice - Cantate Domino XIV, Sabtu 12 Juni 2010



























Paduan Suara St. Caecilia Katedral Jakarta kembali menggelar acara Cantate Domino. Acara ini diadakan hari Sabtu, 12 Juni 2010, di Gereja St. Perawan Maria Diangkat ke Surga, Katedral Jakarta. 

Konser kali ini adalah penyelenggaraan ke-14 sejak pertama kali diadakan oleh PS St. Caecilia dengan maksud memberikan kesempatan bagi paduan suara untuk dapat tampil, mengembangkan kemampuan dan pengalaman baru bagi kelompok paduan suara melalui acara konser.
Peserta acara Cantate Domino kali ini adalah:
  • PS St. Caecilia Katedral Jakarta
  • PS Dominus Super Terram Singers
  • PS Catarina Labore
  • PS Magnificat

Thursday, January 28, 2010

VITA SANTA CAECILIA

Santa Caecilia adalah seorang perawan dan martir, pelindung musik gereja, yang dimartir di Roma sekitar abad III. Santa Caecilia sering dimuliakan di dalam karya seni agung dan puisi, dan merupakan salah seorang martir Kristen kuno yang sangat dihormati. Catatan sejarah tertua tentang Santa Caecilia diketemukan di dalam Martyrologium Hieronymianum (catatan daftar para martir yang ditulis oleh Santo Hieronimus). Melalui catatan ini kita dapat mengetahui bahwa pesta dari Santa Caecilia telah dirayakan di gereja Roma dan gereja Byzantium pada sejak abad IV, yang di dalam Gereja Timur namanya menjadi Santa Kikilia dari Roma.

Pesta nama Santa Caecilia di dalam catatan Santo Hieronimus ini dirayakan di dalam beberapa tanggal yang berbeda. Salah satunya tanggal 11 Agustus, yaitu pesta Martir Santo Tiburtius. Hal ini di kemudian hari diketahui sebagai suatu kesalahan karena Pesta Santo Tiburtius yang dimakamkan di Katakombe Via Labicana sering tertukar identifikasinya dengan Santo Tiburtius ipar Santa Caecilia yang namanya dicantumkan di dalam Vita Kemartiran Santa Caecilia (Vita : adalah bahasa latin untuk riwayat, Gereja sering meriwayatkan kehidupan para orang suci di dalam bentuk literatur yang biasa dinamakan Vita). Juga ada kemungkinan ada seorang martir Roma lainnya yang juga bernama Caecilia yang kebetulan juga dikuburkan di katakombe Via Labicana. Tetapi di dalam akta Martyrologium Hieronymianum, Santa Caecilia dirayakan tersendiri pada tanggal 16 September, dengan Noktah Appia Via in Eadem Urbe Roma Natale et Pasio Santae Ceciliae Virginis. Catatan ini membuktikan tanggal saat martir suci ini dikuburkan di katakombe Kallistus.

Pesta Santa Caecilia masih dirayakan secara besar di Gereja Santa Caecilia di Kuarta Trastevere di Roma pada tanggal 22 November sampai hari ini. Perayaan tanggal 22 November dapat ditelusuri pada gereja ini. Pada petunjuk-petunjuk lokasi katakombe martir-martir Romawi menyatakan bahwa kuburan Santa Caecilia terdapat di katakombe jalan Appia bersebelahan dengan kuburan-kuburan dari para Uskup suci dari abad III (Prof. De Rossi, Roma Sotterranea hal 180-181). De Rossi menunjukkan bahwa kuburan Santa Caecilia yang terdapat pada katakombe Kallistus bersebelahan dengan sebuah kapel (dan kuburan) dari para Paus; sebuah tempat kubur di dalam dinding yang diketemukan kosong. Kemungkinan tempat tersebut berisi peti relikwi dari tulang-tulang Santa Caecilia. Terdapat beberapa lukisan fresco di dalam katakombe tersebut yang menggambarkan seorang wanita yang didandani sebagai wanita kaum berada bersebelahan dengan Paus Santo Urbanus. Di dalam vita kemartiran Santa Caecilia diceritakan hubungan rohani yang amat dekat antara Paus Santo Urbanus dan Santa Caecilia.

Gereja Santa Caecilia yang disebutkan di atas dibangun pada awal abad IV dan masih terjaga sampai sekarang keutuhannya. Disebutkan bahwa gereja yang selesai pada abad V didedikasikan kepada seorang Santa yang dikuburkan di katakombe Via Appia. Hal ini juga dinyatakan di dalam Konsili Romawi tahun 499 dengan Noktah Titulus Santae Caeciliae (Mansi, Coll, Comc. VIII, 236). Kebanyakan gereja-gereja kuno di Roma merupakan hadiah dari Santo-Santa yang namanya dipakai oleh gereja tersebut. Bisa dikatakan bahwa gereja Roma berhutang gereja ini kepada kemurahan hati Santa Caecilia sendiri. Pada penyelidikan untuk mendukung teori ini, diketahui bahwa tanah dimana bagian tertua dari katakombe Kallistus ini didirikan merupakan warisan dari keluarga Santa Caecilia sendiri dan tanah ini oleh ahli waris keluarga Santa Caecilia disumbangkan kepada gereja Roma. Walaupun nama Santa Caecilia tidak tercantum di dalam kalender pesta gereja awal abad IV (Depositio Martyrum) tetapi di dalam Sacra Mentarium Leoniam (buku Ritus Misa yang digubah oleh Paus St Leo yang juga disebut Sacramentarium Veronense), sebuah koleksi misa di akhir abad V terdapat lima perayaan misa untuk menghormati Santa Caecilia. (sacram. Leon., ed. Muratori in opera, XIII, I, 737, sqq. Published Arezzo th 1771). Hal ini menunjukkan bahwa Santa Caecilia sangat dihormati saat itu oleh gereja Roma.

Kira-kira pertengahan abad V kisah (vita) dari kemartiran Santa Caecilia mulai digubah. Kisah kemartiran ini diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Di dalam kisah kemartiran ini diceritakan bahwa Santa Caecilia adalah seorang perawan suci anak dari keluarga senator (petinggi Romawi) dan sudah menjadi Kristen sejak kecil, dan dijodohkan oleh orang tuanya kepada seorang bangsawan muda yang baik hati bernama Valerianus. Namun demikian Valerianus adalah seorang kafir. Tetapi setelah pesta pernikahan, ketika kedua mempelai masuk ke dalam kamar pengantin, Caecilia menyatakan kepada Valerianus bahwa ia telah ditunangkan kepada seorang malaikat yang dengan penuh kecemburuan menjaga kesucian tubuhnya. Ia memohon kepada Valerianus untuk menjaga kesucian dan keperawanannya.

Valerianus sangat ingin bertemu dengan malaikat ini. Oleh karenanya Caecilia menyuruh Valerianus pergi ke rumah ketiga di jalan Via Appia. Di sana Valerianus bertemu dengan Paus Santo Urbanus. Valerianus mendengar seluruh ajaran Kristiani yang diajarkan oleh Paus Urbanus dan memohon untuk dibaptiskan saat itu juga. Dan ketika kembali menjumpai Caecilia ia sudah menjadi seorang Kristen. Pada saat itu juga langit terbuka dan seorang malaikat turun dari surga dan memahkotai Valerianus dan Caecilia dengan mahkota bunga mawar dan bunga bakung. Dengan penuh kuasa Roh Kudus Valerianus mendatangi adiknya, Tiburtius dan menobatkannya menjadi seorang Kristen.

Ketiganya, dengan semangat iman, membagikan hartanya kepada orang-orang miskin serta tanpa sembunyi-sembunyi menguburkan para martir yang dibunuh karena tidak mau menyangkal Kristus. Hal ini membuat marah penguasa setempat yang bernama Turcius Almachius. Segera ia menghukum Tiburtius dan Valerianus dengan hukuman mati. Turcius memerintahkan algojo istana yang bernama Maximus untuk membunuh mereka. Tetapi Santa Caecilia malah menobatkan Maximus menjadi Kristen yang akhirnya dipenggal bersama-sama dengan mereka. Tubuh mereka dikuburkan oleh Santa Caecilia di dalam satu kuburan.

Sekarang kemarahan Turcius ditujukan kepada Santa Caecilia. Mengetahui bahwa dirinya akan mengalami nasib yang sama dengan suaminya, ia mewasiatkan kepada sanak keluarganya untuk membuat rumahnya menjadi gereja Roma. Ketika diadili ia dengan sangat fasih dan dengan penuh keagungan menyatakan iman kepada Kristus. Turcius menjatuhkan hukuman agar ia dihukum dengan disekap di pemandian uap keluarganya sendiri agar ia kehabisan napas. Tetapi ia ditemukan tidak terluka sedikitpun di dalam ruangan tersebut. Turcius memerintahkan agar ia dipenggal di tempat. Ketika algojo mengayunkan pedangnya tiga kali, kepala Santa Caecilia tidak dapat terputus dari badannya. Hal ini membuat algojo tersebut ketakutan dan lari tunggang langgang. Walaupun mengalami luka yang cukup parah, Santa Caecilia masih bertahan hidup selama tiga hari untuk melayani kebutuhan orang-orang miskin dengan kekayaannya. Sesuai dengan wasiatnya, ia ingin agar Santo Urbanus membuat rumahnya menjadi gereja. Santo Urbanus memakamkan Santa Caecilia di samping para uskup, martir dan para pengaku iman lainnya di katakombe Kallistus.

Sepintas cerita ini tidak mempunyai nilai sejarah dan hanya sekedar sebuah Roman yang saleh sebagaimana banyak kisah-kisah lain yang dikumpulkan pada abad V dan VI. Tetapi keberadaan dari para martir di atas merupakan fakta sejarah yang nyata. Hubungan antara Santa Caecilia dengan Santo Valerianus, Santo Tiburtius dan Santo Maximus dinyatakan di dalam vita mempunyai dasar-dasar sejarah. Ketiga martir ini dikuburkan di katakombe Praetextatus di jalan Appia dan kuburan mereka disebutkan di dalam petunjuk-petunjuk kuno bagi para peziarah. Di dalam Martyrologium Hieronymianum ketiga martir ini dirayakan pada tanggal 14 April dengan Noktah Romae Via Appia in Cimiterio Praetextati dan perayaan oktaf (hari ke delapan) dirayakan tanggal 21 April dengan Noktah Romae in Cimiterio Calesti Via Appia. Menurut para ahli perayaan hari ke delapan ini biasanya dirayakan di katakombe Kallistus, hal ini disebabkan karena Santa Caecilia dimakamkan di sana. Apabila Martyrologium ini lebih tua daripada vita Santa Caecilia maka oktafnya tidak akan dirayakan. Tetapi pesta hari ke delapan ini merujuk kepada vita Santa Caecilia sehingga perayaannya diadakan di kuburan Santa Caecilia.

Waktu dimana Santa Caecilia menerima mahkota kemartiran tidak diketahui. Penyebutan Paus Urbanus di dalam vita tersebut tidak dapat disimpulkan kapan vita tersebut mulai dikomposisikan. Pengarang vita hanya mengenalkan Urbanus yang makamnya berdekatan dengan makam para martir yang lain serta mengenalkannya sebagai seorang Paus. Pengarang Liber Pontifikalis ini menggunakan vita Santa Caecilia untuk menjelaskan tentang keberadaan Paus Santo Urbanus. Vita ini juga tidak menyebutkan waktu dari kemartiran Santo Urbanus. Venantius Fortunatus serta Ado, ahli sejarah pada masa tersebut menaruh waktu kematian Santa Caecilia pada pemerintahan kaisar Markus Aurelius dan Commodus tahun 177 dan hal ini telah dibuktikan oleh kebanyakan ahli. Tetapi di dalam Synaxaria dari gereja Orthodox menempatkan Santa Caecilia dibunuh pada pemerintahan Diocletianus. Sedangkan sebagian ahli protestan menempatkannya pada masa pemerintahan Alexander Severus tahun 229-230. Satu-satunya hal yang mengindikasikan waktu adalah penempatan kuburan di dalam katakombe Kallistus dimana kuburannya bersebelahan secara langsung dengan kuburan kuno dari para Paus Suci dimana Santo Urbanus, Santo Pontianus, dan Santo Anterus dikuburkan. Bagian awal katakombe ini berisi kuburan para martir dari akhir abad II dan diteruskan sampai pertengahan abad III dimana terdapat kuburan Santa Caecilia.

Pada tahun 821 Gereja Santa Caecilia dibangun kembali oleh Paus Paschal I (817-824). Di gereja ini Paus Paschal membuat sebuah mozaik indah besar di atas altar/panti imam (Lihat gambar). Paus Paschal I ingin memindahkan relikwi Santa Caecilia ke dalam gereja tersebut. Tetapi ia tidak dapat menemukannya dan ia percaya bahwa relikwinya telah dicuri oleh bangsa Lombardia. Di dalam sebuah penglihatan Santa Caecilia menampakkan diri dan mendorong Paus Paschal I untuk melanjutkan pencariannya, serta ia juga menyatakan bahwa kuburannya tidak jauh dari makamnya. Paus Paschal I mulai mencari lagi dan menemukan tubuh Santa Caecilia masih utuh dan awet, memakai pakaian kain mahal dengan benang emas murni (yang menunjukan bahwa ia dari golongan berada di Roma) dan masih bisa dilihat kain pengikat masih terdapat bekas darahnya. Relikwi ini justru ditemukan di dalam katakombe Praetextatus. Menurut catatan sejarah yang ditemukan menyatakan bahwa ia dipindahkan dari katakombe Kallistus ketika bangsa Lombardia menyerbu Roma. Oleh Paus Paschal I, relikwi Santa Caecilia, Santo Valerianus, Santo Tiburtius, Santo Maximus, Santo Urbanus dan Santo Lucius (penerus Urbanus) dikubur di bawah altar gereja Santa Caecilia yang masih ada sampai saat ini.

Paus Paschal I mendirikan sebuah biara di dekat Gereja Santa Caecilia dan menugaskan para biarawan untuk menyanyikan ibadat harian di dalam gereja ini. Mulai saat itu devosi terhadap Santa Caecilia menjadi besar dan banyak gereja didedikasikan kepadanya. Pada tahun 1599 gereja ini direstorasi dan pada penyelidikan yang diadakan oleh Kardinal Sfondrato, di bawah altar ditemukan kembali tubuh Santa Caecilia, dalam keadaan utuh. Penemuan ini menggemparkan seluruh kota Roma, sehingga Paus Klemens VIII dan seluruh penduduk Roma datang berduyun duyun melihat keajaiban ini. Tubuh Santa Caecilia ditemukan tergeletak masih berjubahkan pakaian emas murni yang sama ketika ia diketemukan tahun 821 oleh Paus Paschal. Paus Klemens VIII menugaskan seorang seniman pemahat Barok terkenal bernama Stefano Maderno, untuk memahat patung Santa Caecilia dengan posisi sebagaimana ia diketemukan. Patung ini sekarang berada di dalam gereja tersebut. Belum lama ini diadakan lagi penggalian yang dilakukan oleh Kardinal Rampolla dan ditemukan sebuah kapel kuno di bawah lantai di tengah gereja yang berisi tulang-tulang dari martir-martir tersebut dan juga ditemukan bekas tempat mandi uap dimana menurut vita adalah tempat Santa Caecilia dihukum mati.

Gambar-gambar tertua dari Santa Caecilia digambarkan sebagaimana martir-martir Kristen di abad pertama yaitu dengan memegang mahkota kemartiran atau dalam posisi oranta (menengadahkan tangan dalam posisi berdoa). Di dalam gerejanya di Trastevere terdapat sebuah mozaik yang dibuat atas dasar perintah Paus Paschal I dimana ia digambarkan mengenakan pakaian sebagaimana layaknya wanita kaya ia dianggap sebagai pelindung para Paus. Pada abad pertengahan Santa Caecilia mulai digambarkan sedang bermain sebuah organ (gambar-gambar Orang Kudus abad 14 dan 15). Hal ini disebabkan oleh penggambaran Santa Caecilia di dalam beberapa Panegiria (homili pujian bagi seseorang yang telah meninggal dunia) dan puisi yang berdasarkan vita kemartiran Santa Caecilia dimana dikatakan ‘Cantatibus organis illa incorde suo soi Domino decantaba’, yang berarti ‘ketika para pemusik mulai memainkan alat musiknya pada pesta pernikahannya ia hanya bernyanyi dalam hatinya kepada Allah semata’. Kemungkinan besar kata cantatibus organis diinterpretasikan sebagai Santa Caecilia pemain organ. Oleh karena inilah Santa ini mempunyai hubungan yang dekat dengan musik.

Ketika Tahta Kepausan mendirikan sebuah Akademi Musik Pontifical tahun 1584, Santa Caecilia diangkat sebagai pelindung dari institusi Pontifical ini. Oleh karena hal inilah penghormatan Santa Caecilia sebagai pelindung musik gereja menjadi umum dan universal dan sekarang organisasi dan komunitas musik bertebaran dimana-mana dengan menggunakan nama Santa Caecilia. Kesalahan ini juga ditambah oleh banyak seniman gereja seperti Raphael yang mulai menggambarkan dia dengan sebuah organ.

Walaupun cenderung kurang dikenal dibandingkan dengan Santa Caecilia, sebenarnya pelindung paduan suara gereja adalah Santo Romanos Melodus yang hidup sekitar tahun 560 Masehi. Melodus adalah sebuah julukan yang diberikan kepada Santo ini yang berarti si pembuat melodi. Santo Romanos adalah seorang Diaken dari Kota Konstantinopel, orang tuanya berasal dari Syria. Ia dikenal sebagai seorang penggubah puisi liturgis yang biasa disebut dengan Kontakion, Gubahan-gubahannya berisi homili serta ulasan teologis yang sangat dalam, tetapi bisa dinyanyikan. Karya-karyanya masih dinyanyikan pada kabanyakan Gereja Timur. Gubahan lagu agungnya yang paling terkenal adalah Akathist bagi Bunda Maria. Menurut tradisi Gereja, Santo Romanos menggubah kidung Akathist ini saat kota Konstantinopel disergap dari berbagai penjuru oleh Bangsa Slavia, dimana ia melihat Bunda Maria menampakan diri dan menebar kerudungnya melindungi kota Konstantinopel. Menurut catatan sejarah, Bangsa Slavia didapati lari tunggang langgang dari Kota Konstantinopel tanpa sebab yang jelas. Oleh karena karya musik vokalnya, Santo Romanos Melodus diangkat oleh Gereja sebagai pelindung dari paduan suara Gereja.

Ditulis oleh David Gozali

Daftar Pustaka:
1. Cross, F.L.; The Oxford Dictionary of the Christian Church ; Oxford University press 1997.
2. Makarios of Simonos Petra, Hieromonachos; The Synaxarion Volume II, Holy Convent the Annunciation of Our Lady Ormylia 1999.
3. Heuken, Adolf SJ; Ensiklopedi Orang Kudus; Yayasan Cipta Loka Caraka 2002.
4. Heuken, Adolf SJ; Ensiklopedi Gereja; Yayasan Cipta Loka Caraka 2002.
5. Bender Terry; St. Cecilia Virgin and Martyr, Panaghia Hagiographia Press 2002.
6. Voragine de, Jacobus & Caxton, William Golden Legend , Princeton University Press 1990.
7. Englebert, Omer; The Lives of the Saints, Penguin Books 1995.

Monday, January 04, 2010

Merry Christmas 2009 & Happy New Year 2010

Segenap anggota dan alumni PS St.Caecilia Katedral Jakarta
mengucapkan

MERRY CHRISTMAS
2009

&

HAPPY NEW YEAR
2010

God bless you and your family.


Sunday, September 27, 2009

Konser MAGNIFICAT


Konser ini untuk kalangan sendiri.

Tanda masuk GRATIS

dapat diperoleh di Ruang Filipus (ruang latihan Caecilia)

Gereja Katedral

Setiap Kamis 19:00 - 21:00 WIB

atau Minggu 10:00 - 12:00 WIB

Hubungi:

Rose 0813 10525717

Sisil 0815 74245876

Dessi 0811 1893512

Sunday, August 30, 2009

PS St.Caecilia Ziarah Bulan Maria Mei 2009


-->
Catatan Perjalanan

PS Sancta Caecilia, Katedral, Jakarta
Ziarah Bulan Maria
Semarang, Sendangsono, Gubug Selo Merapi, Ganjuran, Rawaseneng
20 – 24 Mei 2009

Oleh : Agatha Sulistyowati


Ziarah PSSC (PS Sancta Caecilia) kali ini mengusung misi: “Menggugah Persaudaraan danSemangat Pelayanan melalui Kebersamaan”. Diadakan tepat pada bulan Maria, tanggal 20 – 24 Mei 2009, dengan rute perjalanan ziarah sebagai berikut: Semarang, Sendangsono, Gubug Selo Merapi, Ganjuran dan berakhir di Rawaseneng. Doa Novena untuk mempersiapkan perjalanan ziarah disusun oleh Ida, serta didoakan oleh seluruh anggota setiap hari Kamis dan Minggu (dilambungkan sebagai doa penutup pada tiap kali latihan PSSC). Dimulai hari Kamis, 23 April dan berakhir hari Minggu, 17 Mei. Novena hari kedua dipanjatkan pada Sabtu, 25 April, bertepatan dengan penyelenggaraan Cantate Domino XIII.

Sebelumnya telah diturunkan tim survei yang dipimpin oleh Mbak Fet dengan anggota-anggota:Andre, Riwi dan Eka. Mereka berkeliling Jawa Tengah dan DIY pada 07 – 09 Maret, untukmenentukan rute perjalanan ziarah yang terbaik bagi PSSC. Dan ziarah kali ini pun tetap dipimpin oleh “mbak tur leder”, yaitu Ibu Anastasia Fetria. Hidup Mak Fet!!! He…he…he….!!

Selama masa persiapan ditetapkan berbagai kesepakatan, salah satunya adalah pengaturan pembelianoleh-oleh. Hal ini dimaksudkan agar tidak mengganggu perjalanan ziarah dengan kesibukan beli oleh-oleh, yang bisa jadi sangat menyita waktu. Maka 'panitia' sudah membuat list daftar oleh-oleh yang dapat dipesan. Untuk di Semarang, ada pia “Kemuning”, lumpia Semarang, moci wijen “Gemini” dan kue lapis Surabaya “Briliant”. Sedangkan untuk di Yogya, ada bakpia coklat dan keju “Kurnia Sari” dan gudeg Yu Djum. Sedangkan untuk di Rawaseneng, ditawarkan kue-kue keringproduksi pertapaan (ada kaastengels, kue coklat, dll) serta kopi. Bravo dech buat mbak-mbak 'panitia'  (Riwi, Tika, Mbak Fet dan Eka) yang sepenuh jiwa raga heboh mencatat setiap pesanan dan mengurus pembelian oleh-oleh tersebut. Supaya
pada saat rombongan tiba di masing-masing 'titik', oleh-olehnya sudah siap ditenteng pulang.

Peserta ziarah yang tercatat dalam rombongan kali ini adalah 31 orang.

Sopran: Riwi, Tika, Wida, Sulis, Mia, Ida, Rose, Fetria, Jacq, Ike, Ona, Har.
Alto: Febrina, Eka, Arin, Ika, Dani, Marni, Dessi, Yohana.
Tenor: Brondong (eh…maksudnya Andreas….he…he…), Andre, Henry, Surya.
Bass: Agung, Rodney, Hardi, Ary, Her.

Peserta dari keluarga besar PSSC: Bapak dan Ibunya Henry.

Ditambah satu peserta istimewa: Gaby (bayi berumur 9 bulan, putri pasutri Mia dan Her)

Akhirnya, hari yang ditunggu tiba juga. Hari keberangkatan, Rabu, 20 Mei. Sebelumnya sudahdiwanti-wanti oleh Mbak tur leder agar peserta tidak datang terlambat. Jam 20.00 waktu Katedral,semua orang sudah harus berkumpul di ruang Filipus. Pukul 21.00, datang tidak datang, bus akan tetap berangkat (maafkan, bila kami terpaksa meninggalkanmu).

Wah, anggota Caecilia dengan wajah sumringah, lengkap dengan segala junjungannya, (berhubungbesar maka disebut junjungan, jika kecil jinjingan...he...he...he...!!) datang tepat waktu (mudah-mudahan demikian seterusnya pada saat hari latihan ya mbak-mbak dan mas-mas). Barang-barang bawaan sesuai dengan check list yang telah disusun, mudah-mudahan tidak ada yang terlupakan. Bantal, baju hangat dan selimut ada dalam daftar tentengan wajib. Sebelumnya sudah diberitahukan agar perlengkapan tersebut tak lupa dibawa, demi kenyamanan istirahat di dalam bus yang akanmenempuh perjalanan jauh. Gaby lebih lengkap lagi tuch bawaannya, ada ember, gayung Winnie thePooh, stroller, cooler box...wis...top markotop tenanlah mami papinya.

Di pelataran parkir Katedral, kami langsung disambut oleh bus Royal Platinum yang sudah mejeng manis disana. Awak bus yang akan mengantarkan kami berziarah adalah Pak Soleh sebagai kapten, didampingi oleh dua orang rekannya. Setelah memasukkan barang-barang ke bagasi, sambutan berikutnya dalam rupa paket Hoka-hoka Bento. Paket HokBen ini merupakan persembaha dariJacqueline yang berulang tahun tepat di hari itu. Makasih Jacq.....muah....muah....dah.....he....he...he...!! Ayooo...makan....makan....sambil menunggu teman-teman yang masih dalamperjalanan. Sembari makan tentunya tetap tak ketinggalan sesi foto-foto ria.Juga ngobrol seru plus cekakakan. Wuah....gara-gara cekakakan....langsung tetangga yang lagiberacara di ruang Petrus menongolkan diri dan menegur dengan penuh ke-be te-an, "Jangan tertawa terlalu keras, terutama para ibu-ibu." Duh, perasaan yang tertawanya kenceng itu Andre dan Hendridech, bukannya kaum wanita. Baru ketahuan nich, rupanya saat tertawa mereka berubah menjadi ibu-ibu ....he...he...he....pisss....man....pisss...!! Langsung dech, gaya ketawa berubah menjadi cekikikan,setelah dapet SP tsb. Rupanya ruang Petrus sedang digunakan untuk persekutuan doa....walah....walah....!!

Ketika Ibu Ketua datang, beliau mengajak semua peserta untuk bersungguh-sungguh menghayati perjalanan ziarah ini. Rupanya Ibu Ketua yang juga ibu dokter ini tidak ikut rombongan bus, karena masih ada jadwal jaga di rumah sakit. Kamis pagi (21 Mei) beliau akan menyusul dengan Lion Air (makasih buat Lia dan Lita yang sudah menemani dan mengawal Mbak Ika dalam perjalanan keSemarang). Sebelum berangkat, doa pun dipanjatkan, "Doa
Sebelum Keberangkatan" yang disusun satu paket dengan sembilan kali doa novena. Setelah itu ramai-ramai naik bus, pilih tempat duduk plus partner masing-masing. Pffff...untung busnya tidakpenuh, jadi aku bisa nge-tek satu bangku sendiri. Soalnya kesian banget yang bakal berbagi tempat duduk denganku. Bisa kebayang khan, bakal jadi apa dia setiba di Semarang... he...he...he...!!Wah....wah.... Mbak tur leder rupanya ng'ojek tho dari kampusnya di daerah Cilandak, demi tidak terlambat sampai di Katedral. Sebelumnya do'i harus presentasi dulu di kampus. Aha....akhirnya jadiberangkat juga.....horeeeee......!! Selamat tinggal Jakarta untuk empat hari ke depan.

Banyaknya orang yang mau liburan pada saat long week end, menyebabkan jalanan macet.Perjalanan yang diperkirakan akan ditempuh dalam 10 jam molor hingga 15 jam. Sekitar pukul 12.00 barulah rombongan Caecilia tiba di Susteran Penyelenggaraan Ilahi, Bongsari....hiks!! Mbak Ika yang berangkat pagi hari dari Jakarta pukul 10.05, malah sampai duluan tuch (makasih lagi buat Lita dan mami papinya yang sudah bersedia mengantarkan ketua Caecilia sehingga tiba dengan selamat diBongsari). Setelah bongkar barang dari bagasi, kami pun menuju kamar-kamar yang sudah disiapkanuntuk beristirahat. Acara berikutnya adalah makan soto Semarang yang sudah disiapkan.Wuah.....suedeppp tenan...lengkap dengan perkedel, sate kerang dan tempe kering, tak lupa es jeruk suegerrrr. Semua orang merasa tak cukup hanya makan satu mangkok, jadi rame-rame nambah. Maklumlah, semaleman di perjalanan dan tak sempet sarapan pula (eh salah....sarapan dikit dink....roti "Sari Roti"... he...he... he...). Konon Mia yang paling banyak nambah, sampe tiga mangkok besar (yang lain mangkoknya cilik-cilik). Betul begitu, Mia? Ya 'gak papalah biar ASIperahannya banyak....he...he...he....!! Kata Mbak Fet, penjual sotonya (Mas Benny) merasa senang,semua orang makannya nambah. Dia bilang, "Konco-koncomu maem'e ndemenak'ke, Fet."He...he...he....ndemenak'ke opo rakus yo Mas? Sampe-sampe Mas Benny mau ikut misa sore di Gedangan loch, katanya mau denger'in, kayak apa sich kor yang anggotanya makannya banyak-banyak itu, kalo nyanyi....ha...ha...ha....!!

Setelah makan, aku dan Ida sempet melihat-lihat seputaran kompleks susteran (diantarkan oleh suster  yang menyambut rombongan kami, tapi aku lupa namanya tuch....maaf ya, Suster). Kami mengunjungi suster-suster oma yang sakit/jompo, yang tinggal di rumah depan. Sayang, waktu itu waktunya mereka beristirahat, sehingga kami hanya bisa bertemu dan menyapa beberapa suster saja.Rupanya di kompleks susteran itu ada juga klinik bersalin dan tempat penitipan anak. Karena pukul 15.00 kami sudah harus pamit dari susteran untuk menuju Gereja Gedangan, maka kami pun berganti-gantian mandi. Sempet leyeh-leyeh sebentar meluruskan punggung, tapi tidak bisa tidur.Malah menonton Gaby yang berguling-guling saat akan dipakaikan baju oleh papinya, setelah mandi. Rose sibuk mengabadikan Gaby dalam berbagai pose....he...he...he....!! Melihat papi maminya Gaby heboh, maka kami pun tak tega diam saja. Ada yang bantu gendong'in Gaby, bantu beres'in botolsusunya, bawa'in embernya....pokoknya kerja sama yang mengharukan lah....sebagai sesama rekan seperjuangan di Caecilia...he..he..he...!!

Pukul 15.00, kami pamit kepada suster, menuju ke Gereja Santo Yusuf, Gedangan, Semarang untukbertugas dalam misa Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus, pada pukul 17.30 WIB. Sekilas info, gereja ini sudah berusia 200 tahun pada Desember 2008 lalu. Setelah photo session di depan gereja, kami bersiap-siap bertugas. Vokalisi dan latihan sebentar di balkon gereja, sambil ngetest orgel tuaproduksi tahun 1825. Konon jumlah orgel tipe tersebut yang tersisa hanya tinggal tiga di dunia. Orgel itu juga sudah 16 tahun tidak dimainkan karena jarang ada orang yang bisa memainkannya. Terimakasih kepada Mbak Maria Silabakti yang sudah mengiringi nyanyian kami dengan orgel keren itu. Tugas berjalan baik. Mas Ary bermazmur dengan mantab (pake "b" nich Mas...he...he...he...!!) Pas banget gaya Jawanya, "Allah telah naik diiringi sorak sorai. Tuhan mengangkasa diiringi bunyi sangkakala." Lagu pesanan romo paroki St. Yusuf, Gedangan, Rm. Karl Theodor Wolf, SJ, yaitu "Panis Angelicus" dibawakan dengan sangat merdu oleh solis Caecila yang juga selebritis ibukota,Rozana Unsulangi (Ona)....he....he...he....!! Sebelum berkat penutup, Rm. Wolf menjelaskan kepadaumat bahwa PS St. Caecilia yang bertugas dalam misa tersebut, jauh-jauh datang dari Jakarta untuk melakukan ziarah ke beberapa tempat. Romo mengharapkan Caecilia sering-sering saja berziarah, sehingga bisa kembali bernyanyi di Gedangan....he....he....he...!!

Rupanya yang selebritis bukan cuma Ona loch. Sulis juga punya fans-fans yang bela-bela'in datangke Gedangan untuk mendengarkan kor Caecilia 'mentas'. Ada seorang sahabat yang sengaja datang dari Magelang, membawa kedua anaknya yang juga merupakan anak-anak baptisku (makasih ya Niek, udah dengan sepenuh niat mempertemukan Odilia dan Rorra dengan Tante Ie-ie-nya.....he....he....he....!!) T'rus Lita juga datang bersama keluarga dan teman-teman membawakanlumpia Semarang pesananku (thank's dear). Sehabis misa, photo session lagi di altar gereja. Di tengah-tengah berfoto ria, terdengar dari balkon suara orgel membunyikan lagu Haec Dies. Langsung dech....komunitas orang-orang yang banci nyanyi ini menyanyi dengan penuh semangat Haec diesquam fecit Dominus, exultemus et laetemur in ea, alleluya, alleluya. Nyanyi sambil difoto....teteub.....he....he....he...!!

Selesai berfoto, kami menuju ke aula paroki. Disana Rm. Wolf dan dewan paroki sudah menyediakan  hidangan makan malam untuk kami. Sebelum mulai makan ada sedikit acara ramah tamah antararomo, dewan paroki dengan kelompok PSSC yang diwakili oleh ibu ketua dan ibu pelatih plus dirigen Caecilia. Ibu yang mengetuai bidang kor di Gedangan menyampaikan penghargaannya. Katabeliau, misa hari raya Kenaikan Tuhan Yesus tadi betul-betul terasa meriah, seperti betul-betul tengah berpesta diringi paduan suara malaikat surgawi....plok...plok...plok...!! Si Ibu juga menyatakankekagumannya atas jumlah anggota paduan suara ini yang cukup banyak dan berisi anak-anak muda. Ketika ditanyakan kepada Mbak Ika, apa resepnya.....Mbak Ika hanya tersenyum *sedikit bingung*, bagaimana harus menjawabnya yach? (pasti dalam hatinya berduka, "Duh, coba dech Ibu datang saatkami latihan hari Kamis"....he...he....he....!!) Tapi memang bolehlah salut dengan semangat kita semua, yang sudah semalam setengah hari dalam bus, kurang tidur dan istirahat, namun tetap berusaha bertugas dengan sebaik-baiknya. Terima kasih Tuhan, yang telah memberikan kekuatan dan semangat kepada kami. Terimalah pujian dan persembahan kami.

Sebelum hari bertambah larut, kami harus pamit, untuk melanjutkan perjalanan ke titik ziarah yang kedua, yaitu Sendangsono. Perjalanan menuju ke tempat tersebut kami tempuh selama kurang lebih tiga jam dari Semarang. Setiba di Sendangsono, kami dijemput oleh angkot-angkot yang sudah dipesan tim survey sejak bulan Maret, yang akan membawa kami ke penginapan Ibu Sutiman, yang letaknya di belakang Gua Maria Sendangsono. Setelah meletakkan barang-barang bawaan, kamilangsung bersiap-siap ke gua untuk jalan salib dan doa rosario.

Di tengah malam buta, mulailah kami melakukan ibadat jalan salib singkat yang dipimpin secarabergantian oleh Ida, Fetria dan Sulis. Setelah doa pembukaan, Andre dimintai tolong untuk memimpin lagu yang akan menghantar kami semua ke perhentian pertama. Suara tenor Andre pun mantap membelah kesunyian malam, diikuti semua peserta, "Mari kita merenungkan, Yesus yang menjadi korban, k'arna cinta kasih-Nya." Tapi...loch....loch....kayaknya ada yang 'gak pas dech *garuk-garuk kepala*....apa yach?!?! Olala.....ternyata Andre menyanyikannya dengan nada lagu Puji Syukur No. 480 (Mari Kita Merenungkan). Pantesan....koq kayaknya syairnya kurang sebaris?Karena dalam lagu No. 480 syairnya memang ada empat baris, "Mari kita merenungkan, penebusan umat Tuhan. Meresapkan dalam hati, cinta kasih Ilahi" (bukan tiga baris seperti lagu jalan salib). Wah....wah....sebagai tim penyusun, penyunting dan editor, Ida dan Sulis langsung dech menjadi tertuduh utama telah melakukan kesalahan dalam mengetik. Akhirnya jalan salib tengah malam itupun diwarnai senyum-senyum geli dari para Caecilians. Ketahuan nich, Andre jarang jalan jalib....he...he...he...!! Ya maklumlah ya nDre, tengah malam gitu khan rohnya belum ngumpul, udah gitu....nyuruh nyanyinya langsung nodong lagi.... kagak pake persiapan....jadi yang ada dalam ingatan ya itulah yang dibunyikan....ha...ha....ha......!!

Selesai jalan salib, kami berkumpul di depan gua, mendaraskan doa rosario yang dipimpin olehBrondongnya para tante. Setelah rosario bersama, ada beberapa orang yang langsung menuju ke penginapan untuk beristirahat. Namun banyak juga yang masih bertelut dalam doa pribadi, memohon penyertaan Sang Bunda dalam tiap langkah kehidupan di dunia ini. Sehabis berdoa, aku dan Idamembeli jirigen plastik ke toko terdekat untuk mengambil air sendang. Kami pun mengisi jirigenmasing-masing dengan air sendang, setelah itu barulah kami menuju ke penginapan.

Setiba di penginapan Ibu Sutiman, kami mendapati tiga dipan kayu besar dan panjang. Dipan yang di depan untuk para pria, sedangkan dua yang di dalam untuk para wanita. Satu dipan untuk ibu-ibu sudah terisi. Mereka yang tidur di dipan tersebut sudah pulas kelelahan. Tinggal tersisa satu dipan lagi. Tapi....loch....koq ibu-ibu yang belum tidur masih banyak yach?!?! Cukupkah semuanya ditampung dalam satu dipan?!?! Ya wis lah, cukup 'gak cukup, harus cukup...he...he...he...!! Akhirnya dipan yang tersisa itu bermuatan berat, karena disana ada Riwi, Tika, Eka, Arin, Widha, Sulis, Gaby, Mia, Ida dan Rosi. Mana si Gaby tidur di sebelah aku lagi....wuah....ciloko mencit khan kalo diaketindihan Tante Sulis...?!?! Apa kata dunia?!?! Ha...ha...ha...ha....!! Tadinya aku sudah mengusulkan ke sang mami, agar Gaby dipindah ke sebelah Tante Ida saja (kayaknya bakal lebih aman khan?!?!).Tapi Mami bilang, "Gak apa-apa koq, disebelah Tante Sulis aza." Baiklah....pasti malaikat Gaby akan  berjaga dengan baik sepanjang dia tidur....wong waktu tidurnya juga tidak lama, hanya sekitar dua hingga tiga jam saja.....he...he...he...!! Oh....ternyata masih ada Ike, Febrina dan Ona yang belum mendapat tempat untuk tidur. Febrina akhirnya bisa nyempil di "kapal" seberang, Ona.....tidur di bangku kayu panjang, Ike....entahlah dia tidur atau tidak?!?! He....he....he.....!!

Bangun.....bangun.....pagi sudah tiba....!! Setelah mandi dan membereskan barang-barang, kamipun bersiap pamit kepada Ibu Sutiman. Sedikit cerita tentang Ibu Sutiman. Ternyata, Sabtu (16 Mei) Bapak Sutiman baru saja dipanggil Tuhan...hiks....hiks....!! Turut berduka cita ya, Bu, semoga Tuhanmenganugerahkan istirahat kekal bagi jiwa Bapak Sutiman, serta penghiburan bagi Ibu dan keluarga.Saat minggu sebelumnya Riwi telfon ke Sendangsono untuk mengecek kesiapan angkot yang akan menjemput kami, dia mendengar kabar sripah tersebut. Jadilah di pagi itu langsung kami mengedarkan kresek mengumpulkan sumbangan duka untuk Ibu Sutiman. Walaupun sedang diliputidukacita atas kepergian suaminya, Ibu Sutiman tetap menerima kami dengan sepenuh hati dan keramahan. Terima kasih, Ibu. Tuhan
memberkati.

Di depan penginapan sudah siap tiga angkot kecil yang akan membawa kami kembali ke bus. Dalam angkot yang kunaiki seingatku ada Ida, Mas Ari, Andre, Mbak Ika, Riwi, Tika, Brondong, Rosi. Di angkot tersebut, kami meledek Andre tentang kejadian salah nyanyi dalam jalan salib semalam, sambil tertawa seru. Kata Mas Ari, "Lha iyo, tiwas aku wis manteb melu nyanyi bareng Andre, jebul'e salah!" Ha....ha....ha....ha....ha.....!! Saru = salah ning seru.

Dari Sendangsono, bus melaju membawa kami ke titik ziarah yang ketiga yaitu Gubug Selo Merapi.Sesampainya di Susteran Sumber, Merapi, kami langsung berbagi kamar dan sarapan. Setelah itu kami berkumpul di depan susteran untuk memulai misa alam yang akan dipimpin oleh Rm. V. Kirjito Pr. Romo meminta kami menyanyikan satu lagu sebagai lagu pembukaan misa alam tersebut. Kamipun menyanyikan "Bapa, Engkau Sungguh Baik", dilanjutkan dengan pembacaan nats Kitab Suci oleh Rm. Kir dari Kitab Kejadian 1:1-10. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa  terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama. Berfirmanlah Allah: "Jadilahcakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air." Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua Berfirmanlah Allah: "Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering." Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

Romo mengajak kami merenungkan pentingnya air dalam kehidupan manusia. Kata Romo, walaupun  diberi judul "misa alam" tetapi kami tetap diperbolehkan berbicara, bertanya dan tertawa di sepanjang perjalanan. O ya, sebenarnya Romo sudah menyiapkan satu mobil untuk Her, Mia dan Gaby, tetapi rupanya mami dan papi Gaby dengan penuh semangat ingin ikut berjalan kaki ramai-ramai saja.Hebat!!! Salut, buat Her dan Mia yang begitu berniat memberikan pengalaman positif sebanyak-banyaknya untuk putri mereka.

Kamipun mulai berjalan menyusuri jalan aspal di kawasan Sumber. Lumayan jauh juga perjalananini. Melewati jalan berliku-liku, serta menyusuri sungai yang mengalirkan air sampai di kawasan tuk (sumber air) yang tak pernah kering saat musim kemarau panjang. Kami menikmati sungai yang jernih dan belum diotak-atik oleh manusia. Belajar dari air, mengenal air dan berusaha memahami air. Lewat keberadaan air yang melimpah di Lereng Merapi ini, kami diajak masuk ke dalam“kedahsyatan” air hingga misteri atau segala pertanyaan yang tak terjawab atas keberadaan air. Tentu saja air itu ada karena Tuhan yang Maha Kuasa. “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air,”  demikian dikatakan dalam Kitab Kejadian bab 1:2. Allah dengan air sangat dekat. Kehidupan jugasangat dekat dengan air. Romo Kirjito membimbing kami untuk merasakan kehadiran Tuhan yang nyata dalam keberadaan air dan seluruh rantai kehidupannya. Ditengah-tengah hamparan sawah yanghijau, Romo memberi kesempatan pada kami untuk menyuarakan syukur kami melalui nyanyian.Maka lagu 'Give Thanks' pun mengumandang ditingkahi suara angin yang semilir.

Di salah satu sumber air yang kami temui dalam perjalanan (yang disebut Pancuran Kajangkoso),Romo mengajak kami berhenti sejenak. Lalu meminta kami satu persatu membasuh muka sambil membayangkan Tuhan yang begitu mengasihi kita. 'Festival' cuci muka itu dilakukan dalam suasana doa. Sebelum membasuh muka, kami membuat tanda salib terlebih dahulu. "Setelah itu basuhlah muka kalian sambil membayangkan tangan Tuhan yang sedang menyentuh dan mengusap wajahmu melalui air tersebut", begitu instruksi dari Romo. Sebagai penutup acara pembasuhan muka, kamidiminta mendoakan seseorang yang kami sayangi. Aku membasuh mukaku sambil membayangkan Tuhan yang tiada henti-hentinya melimpahkan kasih-Nya kepadaku. Setelah itu aku mendoakanseseorang yang selama ini selalu ada di hati dan pikiranku, yang namanya senantiasa kusebut dalamtiap doa yang kupanjatkan. "Ya Tuhan, lindungilah dan jagalah dia selalu. Ampuni aku yang selama ini telah sering membuatnya 'terluka'. Balutlah 'luka' itu dengan tangan kasih-Mu yang perkasa. Amin."

Dalam perjalanan, kami sempat mampir ke Padepokan Seni "Tjipta Boedaja" yang didirikan oleh (alm) Yoso Sudarman sejak tahun 1937. Terletak di Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun. Padepokan tersebut saat ini dipimpin oleh Bapak Sitras Anjilin (putra Bapak Yoso Sudarman). Menurut keterangan, Yoso Sudarman adalah tokoh seni, guru seni, pencipta gending danberbagai peralatan seni. Filosofinya, “Urip iku aja pisan-pisan ninggalke seni” (hidup itu janganmelupakan seni), demikian Pak Sitras menirukan pesan ayahnya. Pak Sitras juga memberikan penjelasan mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan di padepokan tersebut. Di panggung padepokan ini, kami diberi kesempatan untuk 'tampil'. Maka kami pun menyanyikan 'Panis Angelicus', mumpung ada mbak solis....he...he...he....!!

Dari padepokan, kami melanjutkan perjalanan ke Gubug Selo Merapi, Lor Senowo. Di kapel St. Petrus Kanisius, kami melanjutkan misa. Romo memberi kesempatan pada siapa saja yang ingin berbagi pengalaman tentang perjalanan ini. Diantara teman-teman yang sharing, ada maminya Gaby yang mengungkapkan perasaannya sepanjang ikut serta dalam ziarah ini. Dengan sedikit terharu, Mia  berkata, dia menemukan banyak sekali 'Simon-Simon dari Kirene', yang siap dan sigap menolongmemanggulkan 'salib'nya. Ada om yang bawa'in ranselnya sepanjang perjalanan, lalu ada para tante yang bergantian momong Gaby disaat mami papinya sedang sibuk dengan berbagai macam hal. Bahkan disaat si tante-tante ini lagi heboh bengesan (baca: lipstikan) dan bikin alis (biar mukanya 'gak kayak tuyul ya, Tik?!), para om juga tak keberatan mendorong-dorong Gaby dengan strollernya.Mendengar sharing Mama Gaby tentang 'Simon dari Kirene' yang katanya banyak dia temui dalam kelompok ini, aku pun mencoba berefleksi mengenai arti penting sebuah komunitas. Komunitas yangsenantiasa menjadi penguat kita. Disana hadir banyak 'tangan' dan 'kaki' serta hati yang penuh cinta, yang siap menyertai setiap langkah hidup kita.

Peserta sharing berikutnya adalah papanya Hendri. Beliau berkata, sepanjang mengikuti perjalananziarah bersama PS St. Caecilia, beliau merasa kagum terhadap kelompok ini. Kelompok yang terdiri dari anak-anak muda yang penuh semangat. Semangat dalam menyanyi, semangat dalam melayani. "Tidak seperti kor-kor lain yang kebanyakan terdiri dari orang-orang tua", tambahnya. Mbak Ika pun tersenyum simpul mendengar komentar tersebut .... he... he... he....!! Amin....amin....aminPak.....doakan semoga kelompok ini tetap setia dalam jalur pelayanan.

Selesai misa, kami mendapat berkat jasmani yang biasa disebut 'nasi doa'. Saat membuka bungkusan daun 'nasi doa', banyak diantara kami yang kebingungan, "Lho kok isinya cuma nasi putih yak? 'Gak ada lauknya gituch?" Ternyata, si lauk bersembunyi di tengah-tengah nasi. Wuah...setelah menempuh  perjalanan yang cukup jauh.....menyantap 'nasi doa' yang hangat dan gurih itu......maknyusssstenaannnnn....he...he...he....!! Dari GSM untuk balik ke susteran, sebagian dari kami diangkut oleh angkot pedesaan. Ada insiden antara Tika dan Agung yang tarik-tarikan resleting di angkot. Entahlah,  resleting Agung yang bagian mana yang ditarik-tarik sama Tante Tika....he....he.....he......!! Ternyata, kalo 'gak ada Brondong, Agung pun jadi ya, Tan.....ha....ha.....ha....!!

Sepanjang siang hingga sore itu, kami lanjutkan dengan acara istirahat di susteran. Tak lupa latihan untuk mempersiapkan penampilan pada pentas seni bersama penduduk, malam harinya. Pentas seni akan diadakan di Stasi Juwono, salah satu stasi yang ada di lereng Merapi. Di luar perkiraan Rm. Kir, si bus Royal Platinum ternyata tidak dapat melewati jalanan kecil menuju ke
tempat acara. Akhirnya kami semua turun dan berjalan kaki ramai-ramai dalam kegelapan malam. Rm. Kir sudah jalan terlebih dahulu dengan mobilnya seraya mengangkut Gaby dan keluarga. Rombongan pejalan kaki dipimpin oleh Arin dan Rodney, yang dengan pe de-nya terus saja berjalan sambil bergandengan tangan. Maklumlah.....sepanjang ziarah ini mereka ada sessi foto pre-wed tersendiri, jadi mau arah jalannya belok kanan atau belok kiri, kagak
penting lagi....yang penting berdua....yiukssss....he...he...he...!!

Ditengah-tengah kebingungan, "Bener 'gak ya...tadi mobil Romo beloknya kesini?"...tiba-tiba dari arah berlawanan muncul mobil bak terbuka. Kata pak sopir, beliau diutus Rm. Kir untuk menjemputkami. Akhirnyaaaa.....beramai-ramai kamipun (kaum remaja putri) naik ke mobil tersebut...untek-untekan. Wuah...seru banget... !!! Mustinya masuk infotainment nich. Artis ibukota, Mbak Rozana Unsulangi naek mobil bak terbuka di malam yang gelap.... he...he...he...!!

Setiba di Kapel Stasi Juwono, kami disambut dengan hangat oleh penduduk setempat. Sambutanyang sungguh tulus dan penuh suasana kekeluargaan. Bener-bener damai di bumi, damai di hati....he...he...he....!! Acara pentas seni malam itu disiarkan langsung oleh radio komunitas yaitu DRR Merapi, 107.7 FM. PS St. Caecilia tampil bergantian dengan paduan suara dari Juwono. Padasaat mendengar mereka nembang (menyanyi dalam bahasa Jawa), kata Mas Ari, "Serius akumerinding. Aku sendiri orang Jawa, tapi gak pernah melakukannya......" Pada kesempatan tersebut,Caecilia mempersembahkan lagu Sicut Servus, Ubi Caritas dan Ride the Chariot. Sempet juga para penyanyi Caecilia didaulat untuk maju dan menyanyi bersama dengan umat Juwono. Adalah Agung, Tika, Eka, Dani, Rodney dan Andre yang dengan penuh semangat memenuhi undangan tersebut, ikut bernyanyi 'Bumine Goyang' bersama mereka. Keren bangetttt, begitu beberapa anak Caecilia ikutan manggung bersama kor Juwono, lagu 'Bumine Goyang' langsung dinyanyikan pica ampat *ya NDre?!?!*.... he...he....he.....!!

Malam pun kian menjelang, tibalah waktunya untuk berpisah. Lagu 'nDerek Dewi Mariyah' menjadilagu penutup yang dinyanyikan secara bersama-sama, baik oleh umat Stasi Juwono maupun anggota kor St. Caecilia, dalam suasana yang hangat dan akrab. "Rasa persaudaraan yg tulus sungguh terasa. Tanpa motivasi apa pun. Itulah berkesenian yang membangkitkan dan mencerahkan", kata Andre."Pada saat nyanyi lagu tersebut, kata-kata hampir gak keluar. Aku motret sambil gemeter...dua latarbudaya dipersatukan lagu itu.......Puji Tuhan", Mas Ary menambahkan. Lagu 'nDerek Dewi Mariyah' menjadi lagu wajib dalam ziarah tersebut.....theme song gitulah....he...he...he....!! Dimanapun dan kapanpun, lagu tersebut selalu kami nyanyikan. Walaupun jika sedang tidak pegang teks, terkadang terbalik-balik menyanyikan kalimat-kalimat ayatnya. No problem....yang penting menyanyi dengan hati yang penuh cinta.....ha...ha...ha....!! 

Keesokan paginya kami bersiap-siap check out dari Susteran Sumber. Setelah pamit kepada parasuster dan Rm. Kir, kami langsung naik kembali ke atas bus yang akan membawa kami menuju titik ziarah berikutnya, yaitu Candi Hati Kudus Yesus, Ganjuran. Oo ow....ternyata hari itu Jeng Arin ulang tahun. Selamat ulang tahun, Jeung!!! Ucapan selamat dari teman-teman Caecilia ternyata harusdijemput satu persatu oleh Arin (jemput bola nich, judulnya.... he...he...he...!!) Maksudnya, Arinharus berjalan dari satu teman ke teman yang lain untuk menerima ucapan selamat dan ciuman.......panjang umur, sehat dan sejahtera selalu, Arin.

Setiba di Ganjuran, kami langsung gelar tikar dan berkumpul di depan Candi Hati Kudus. Doakepada Hati Kudus Yesus pun kami daraskan, dipimpin oleh Dessi. Setelah berdoa bersama, ada juga  kesempatan untuk mendoakan ujub-ujub pribadi, mengambil air dan berbelanja. Namun karena waktunya sangat terbatas, maka yang belanja pun dikejar-kejar oleh mbak-mbak 'panitia' agar segera menyudahi kegiatan belanjanya. Dengan toanya, Andre berseru, "Panggilan kepada Brondong, sudah ditunggu para tante di dalam bus." He...he...he...!! Andreas sempet mengeluh begini, "Lama-lama semua orang akan lupa pada nama asliku, karena tahunya namaku Brondong." Duh, yang curhat,mesak'ke tenan....!! Itu panggilan kesayangan untukmu, Brondong (teteub).....ha....ha....ha.....!!

Dari Ganjuran, kami meluncur ke Yogyakarta. Dalam perjalanan menuju ke Yogyakarta, ada sedikit insiden. Di tengah jalan Jeng Eka diturunkan untuk mengambil pesanan bakpia para Caecilians. Dengan 27 box bakpia ditenteng di tangan, Eka melangkah tertatih-tatih mengejar bus. Tapi....hiks....hiks....*kayak adegan di pelem-pelem* kira-kira hanya kurang 10 m lagi Eka dan tentengannya nyampe di bus...eh....lampu lalu lintasnya berganti menjadi hijau. Cilaka....bus-nya harus jalan dech. Jadi bus-nya 'gak kekejar oleh Eka dech.... *dramatis dan miris*.... Maka Eka pun terpaksa menyusul bus dengan mbecak...eh....naek becak,
maksudnya....he...he...he...!! Sayang sekali, 'gak ada seorang pun yang sempet mengabadikan momentersebut dengan kameranya. Semua orang terpana melihat adegan yang mengharukan.com itu. Piiiisssss.....Ka.....kotoz-kotoz banget dah liat kamu ngejar-ngejar bus dengan segerobak bakpia *sedikit hiperbola*.....he...he...he...he....!!

Setiba di kota Yogyakarta Berhati Nyaman, bus memarkirkan diri di Taman Parkir Abu Bakar Ali. Para penumpangnya langsung dibagi menjadi tiga kloter belanja, dibawah pimpinan Eka, Riwi dan Tika. Beramai-ramai mereka menujuke Mirota Batik dengan naik andong. Mbak Fet, Ona, Sulis, Dessi dan Mbak Har, 'gak ikut belanja. Nunggu'in bus-nya, takut ilang...he...he...he...!

Waktu belanja hanya dibatasi 1 jam saja. Selesai 'gak selasai, harus dikumpulkan. Biarpun cuma 1 jam, ternyata ibu-ibu itu banyak juga loch menenteng tas Mirota Batik....hebattttt....!! Tante Tika membawa cerita riang, katanya, di atas andong sepanjang perjalanan menyusuri Malioboro, dia dipersatukan dengan Brondong. Andongpun menjadi saksi.... he...he...he...!! ! Siang itu menu makannya adalah gudeg Yu Djum yang sudah dipesan jauh-jauh hari sebelumnya. Nyammm....enak tenannn...!!

Dari Yogya, perjalanan dilanjutkan menuju titik ziarah terakhir, yaitu Pertapaan Santa Maria, Rawaseneng. Di Rawaseneng, kami mengadakan audiensi singkat dengan Rm. Athanasius OCSO. Rm. Athan menjelaskan tentang kehidupan membiara dalam biara trappist. Disampaikan juga syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang calon rahib. Duh, pastilah si Tante Tika dalam hati   berdoa tanpa kunjung putus, "Ya Tuhan, jangan panggil Brondong-ku menjadi calon rahib yaaa....!!" He.....he.....he.....!! Setelah audiensi, kami mengikuti misa kudus di dalam kapel pertapaan. Kapel yang selalu membuatku rindu jika sudah lama tidak berkunjung kesana. Di dalam kapel, kami melihat  deretan para rahib, dengan jubah putihnya. Selesai misa, kami menyantap makan malam dalam box yang telah disediakan. Acara heboh berikutnya adalah belanja di toko pertapaan. Beli kue kering produksi para frater di pertapaan, kaos dan lain-lain. Kagak ada matinye dah....kalo disuruh belanja....seng ada lawan......he....he....he.....!!

Saatnya pulang, teman-teman......!!! Dalam guyuran hujan deras, bus kami pun meninggalkanpertapaan. Berakhir sudah rangkaian perjalanan ziarah bulan Maria ini. Sampai jumpa dalamperjalanan ziarah berikutnya *mudah-mudahan jadi nyampe ke Eropah yach*....ha...ha...ha....!!

Ahaaa.....akhirnya selesai juga catatan perjalanan ini. Setelah bergulat dengan berbagai hal, ya kesibukan pekerjaan, kegiatan kepo dan tentu saja, kemalasan....he...he...he...!! Harapanku.. semoga catatan ala kadarnya ini bisa menjadi kenang-kenangan dalam perjalanan PS St. Caecilia. Catatan ini kupersembahkan untuk semua teman-teman tercinta di Caecilia. Terima kasih....buat kebersamaan dan persaudaraan yang telah terjalin selama satu tahun umurku di Caecilia. I love you all.....full....ha...ha...ha....!!


KAMI KOMPAK CAECILIA JAYA!!!